SEKADAR MENYISIR KENANG





Entah mengapa tiba-tiba radarku mengarah berputar kebelakang menyisir kenang, tepatnya tiga tahun yang lalu, semasa seragam putih abu-abuku yang telah ku simpan selama setahun lamanya. Aku beranjak dari kediaman, menata kembali niat yang kuat serta fikiran optimis tentang masa depan yang ku impikan. Perlahan namun pasti, proses yang kulalui tidak selurus  jalan tol di kebanyakan kota. Iya, aku berjuang. Tahap demi tahap ku lalui dengan keoptimisan yang kuat. Aku bisa!! Aku selalu menanamkan kata itu dalam batinku yang khawatir. Langkah demi langkah kulalui dengan banyaknya sandungan batu dalam perjalanan. Bersama restu dan doa Ayah dan ibu awalku memulai perjalanan. Berbekal usaha yang singkat aku berani bersaing dengan ribuan orang yang mungkin lebih matang persiapanya menghadapi ujian SBMPTN di tahun 2016. Namun hal itu tak mengurungkan niatku dalam berkompetisi. Aku bisa! Aku bisa! Kata-kata itu saja yang selalu ada di benakku.

::::::

Selam beberapa waktu, akhirnya hal yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang. Hasil ujian SBMPTN tahun 2016 akhirnya di umumkan. Detak jantungku yang semakin berdebar ingin segera mengakses account peserta SBMPTN 2016. Mengingat tahun 2015 aku sudah sangat akrab dengan kata GAGAL, aku takut hal itu akan terulang kembali di tahun 2016. Rasa gelisah, resah melebur menjadi rasa khawatir yang cukup bergejolak dalam benak fikirku. Bismillah, aku memberanikan diri membuka hasil pengumuman seleksi SBMPTN 2016. Mataku sayup, hatiku kecewa, batinku menjerit ingin marah dan tangisku menjadi setelah itu. Ayah, ibu serta bibi menguatkanku, mereka menguatkan dan meyakinkanku bahwa ada celah di tempat lain yang pasti akan aku tempati, sabar dan berusahalah lebih keras lagi. Dan itulah, yang berhasil membuatku terbujuk dan mampu bangkit kembali meskipun tidak mudah mengobati kekecewaan yang begitu mendalam. Ku kuatkan lagi niat dan usaha yang kumiliki.

:::::::

Berselang waktu dari kejadian pahit itu, aku menemukan informasi tentang jalur masuk PTN yang ku impikan. Ada jalur UM (ujian mandiri). Aku segera bergegas memenuhi segala persyaratan yang di butuhkan dan biaya administrasi di salah satu BANK relasi kampus impianku. Sejak saat itu, aku berusaha siang dan malam demi tercapainya hajat yang kumiliki, selang beberapa minggu, tibalah saat ujian seleksi itu datang. Aku bergegas dan antusias sekali mengikutinya, tidak berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Bersama seorang teman, aku berangkat dengan penuh semangat serta diiringi segala do’a dan harapan-harapan baik menyongsong waktu di masa depan. Aku selelsai mengerjakan ujian tersebut. Aku pulang, dan memasrahkan segala kehendak Allah yang akan ku hadapi di kemudian hari. Aku menyiapkan mental serta palnning untuk kedepan jika ada hal yang tak ku inginkan terulang kembali, iya.. itu sebuah kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tapi harapku, semoga akan baik-baik saja.

:::::::

Dan waktu yang ku tunggu-tunggu datang, detak jantung mulai tak terkontrol. Namun aku sudah mulai berusaha menenangkan diri dan siap menerima apapun yang akan terjadi, dan Dengggg…lagi-lagi aku berjumpa kembali dengan istilah GAGAL.  Hatiku pasrah, aku lelah, aku pesimis. Namun kali ini aku tak menangis. Mencoba ikhlas dan bertawakal terhadap apa yang di berikan oleh-Nya untuk ku. Mungkin ada yang lebih baik dari yang ku harapkan (batinku menguatkan). Baiklah, ku coba mencari celah agar tetap melanjutkan pendidikan yang ku inginkan meskipun tidak di kampus yang ku impikan. Tidak lama dari pengumuman kelulusan ujian mandiri yang ku ikuti beberapa hari yang lalu, aku menemukan informasi pembukaan pendaftran jalur seleksi masuk PTN bernaungan Islam, iya jalur UM-PTKIN (ujian masuk perguruan tinggi Agama Islam Negeri yang di selenggarakan secara serentak nasional dibawah naungan kementrian Agama RI). Dan akhirnya aku mendaftarkan diri.

:::::::

Telah tiba waktu ujian seleksi di laksanakan, aku berangkat sendiri dengan harapan dan doa-doa yang baik demi menguatkan diri dan menanamkan optimisme keberhasilan di dalam diri. Barakallah, ujianku lancar tanpa banyak rintangan. Aku pulang dengan sangat tenang, dan memasrahkan segala hasil yang akan di dapat nantinya kepada Allah swt. Entah hatiku terasa nyaman dan merasa semua di permudah saat proses ujian. Terimakasih ya Allah. Waktu demi waktu aku lalui sembari berdoa dan terus menanamkan rasa optimisme dalam hati. Tiba di waktu pengumuman ujian UM-PTKIN 2016 di umumkan. Berdebar jantung berlebih, tanganku keluar keringat dingin. Hatiku khawatir, Bismillahirrohmanirrohim… aku memberanikan diri membuka account peserta ujian UM-PTKIN 2016  dan kudapati beberapa nama yang tertera di barisan daftar peserta yang di terima di kampus tempatku mendaftar. Finally, aku menemukan barisan huruf abjad namaku dan ku urutkan satu persatu dari beberapa nama itu. Iya, aku menemukanya. Menemukan nama lengkapku beserta keterangan  SELAMAT ANDA LULUS UJIAN UM-PTKIN 2016 di kampus tempatku kuliah sekarang. ALHAMDULILLAH…ku lantunkan hamdalah dengan tetesan air mata haru. Terimakasih ya Allah terimakasih. Tak cukup itu, aku mengabarkan pada Ayah dan ibu atas kelulusan ini. Iya, ini berkah dari doa Ayah dan Ibu. Terimaksih. Dan sekarang, aku menginjak semester tujuh akhir dan sudah mulai proses proposal penelitian sekripsi. Semoga selalu di lancarkan. Mohon doanya yaa…

:::::::

Libatkan Allah, libatkan doa dan libatkan restu dari orang tua, terutama ibumu dalam sekian perjalananmu mencapai cita, insyaallah jalanmu akan di permudah. Setelah kelulusanku itu, aku mendapatkan fakta yang tak ku duga akan sangat berdampak dalam perjalananku meraih mimpi menata masa depan, ibu bilang bahwa ibu memang tidak mantap hati ketika aku izin untuk kuliah di tahun 2015, dan di tahun 2016 ibu memang tidak berkenan aku kuliah di luar kota. Dan inilah akhirnya. Dari sini, aku benar-benar yakin bahwa ridho orang tua adalah segalanya dan akan berdampak besar dalam setiap jalan yang kau tempuh. Terutama ridho ibu, tidak asing lagi bukan bahwa ridho ibu adalah ridho Allah dan murka Ibu adalah murka Allah. Maka libatkanlah ridho orang tua di setiap hal yang kamu lalui, insyaallah semuanya akan di permudah dan di lancarkan. Amin.

Semoga kisahku menjadi bermanfaat bagi kalian yang membacanya, tetap optimis dan semangat meraih mimpi mencapai cita ya…

Jember, 15 Desember 2019

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MY GRADUATIONS STORY

Happy Mother Days

keseharian kami sebagai santri