MY GRADUATIONS STORY

 

Sourch: google

Assalamualaikum wr wb.

Haiii…Aku baru saja mendapati account blog-ku kembali, rasanya bahagia sekali karena bisa berbagi cerita kembali disini. Yaa… meskipun aku juga tidak tahu ada atau tidak yang berminat membaca tulisanku ini. Yang penting akunya happy aja. Nah, jika ditulisanku yang terakhir aku menceritakan tentang bagaimana perjalananku saat aku daftar kuliah. Disini aku akan bercerita tentang perjalananku hingga akhirnya aku berhasil LULUS dan resmi mendapatkan gelar sarjana. Dari proses pengajuan judul hingga akhirnya aku di Wisuda.

Sekitar bulan februari atau maret 2019 (tepatnya aku lupa) aku mulai mengajukan judul skripsi ke dosen yang sudah bertugas menyeleksi judul skripsi yang akan dijadikan bahan penelitian para mahasiswa. Aku  mengajukan beberapa judul skripsi yang harapanya akan mendapatkan ACC dengan cepat. Dengan beberapa teman seingat aku, dulu aku bareng sama Feby, Yuli dan Nia. Kami bertigaas pergi keruangan dosen tersebut dengan berbekal beberapa judul skripsi yang akan kami ajukan terhadap dosen yang bersangkutan. Singkat cerita, kami bertiga pulang dengan hasil yang berbeda beda, ada yang mendapatkan 1 ACC ada juga yang Alhamdulillah langsung dapat 2 ACC sekaligus. Dan saya salah satu yang dapat 1 ACC judul skripsi tersebut. Tidak masalah, waktu itu aku masih gencar-gencarnya ingin segera lulus tepat waktu agar tidak membebani orang tua. Yaaa resiko mahasiswa mandiri ya kannn. Beasiswanya dari orangtua. Jadi memang tujuan lulus yang paling utama agar tidak membebani orangtua lagi.

Lanjut memikirkan judul skripsi yang ke dua dan ketiga agar segera bisa menghadap ke kepala program study untuk mendapat ketentuan judul yang mana yang layak untuk aku perjuangkan. Tidak jauh dari pengajuan judul yang pertama aku mengajukan kembali judul skripsiku untuk kali kedua. Alhamdulillah dari lima judul yang aku ajukan 1 yang dapat centang ACC. Nggak apa apa…

Dari pengajuan judul yang pertama dan kedua, otaku sudah sangat berpikir keras dan untuk ketiga kalinya aku sangat pasrah, hingga pada akhirnya jeda pengajuan judul untuk ketiga kalinya jangkanya sangat panjang dari pengajuan judul skripsiku yang pertama dan yang kedua. Karena memang saat itu otak ku sudah mentok tidak memiliki list judul lagi yang akan ku ajukan. Sampai pada akhirnya… tugas PPL dari kampus mulai turun dan aku sejenak mengalihkan pikiranku dari pengajuan judul skripsi.

Singkat ceritaaa…

Di tempatku PPL beberapa teman PPL ada yang sudah mulai mengerjakan latar belakang untuk diajukan kepada kepala program study untuk menentukan judul mana yang layak untuk dilanjutkan ketahap penelitian hingga diujikan. Dan aku masih stuck di dua judul itu tidak bergerak. Waktu itu aku masih santai tapi lama kelamaan kok panas batin juga lihat mereka tiap hari berlomba-lomba ingin segera lulus tepat waktu. Dan akhirnya aku disaranin sama si Iim, Firda, Yeni dan mbak Ika teman PPL-ku  teman terbaiku  di  tempat PPL untuk menyicil latar belakang dari judul-judulku yang sudah mendapatkan ACC semabari aku memikirkan judul selanjutnya yang akan diajukan kembali.

Aku mulai menyicilnyaa…

Kurang lebih 2 hari aku selesai mnegerjakan latar belakang judul skripsiku sembari aku masih memikirkan judul skripsi ketigaku yang aku sendiri tidak punya pandangan problem dan keunikan tentang suatu hal untuk dijadikan sebuah permasalahan yang dibuat untuk mengonsep judul. Hargghhh aku lelah. Pada akhirnya beberapa temanku yang sudah selesai mengerjakan latar belakang bahkan ada juga yang udah proses proposal membantuku berfikir untuk mengonsep judul. Dan jrengggg…. Jadi. Meskipun judul yang akan ku ajukan kali ketiganya ini aku tidak menguasainya, yang penting aku selesai lah ditahap ini. Pikirku saat itu.

Sepulang PPL aku mencoba menemui dosen tempatku mengajukan judul. Namun bapaknya tidak ada. Dan akhirnya coba aku hubungi via WhatsApp dan Alhamdulillah bapaknya merespon sangat cepat dan menyuruhku untuk mengirimkan judul yang akan ku ajukan via WhatsApp saja “ kirim wa saja judulnya mbak…” pesan bapak dosen kepadaku. “Nggih bapak, akan segera saya kirim. Terimakasih”. Kurang lebih begitu percakapan kami saat itu di WhatsApp. Akupun segera mengetikan judul-judul yang akan ku ajukan dan segera ku kirimkan. Tidak perlu menunggu lama setelah aku mengirimkan judul-judul yang aku ajukan ke beliau. Beliau meresponya dengan cepat. Kalau tidak salah ingat beliau hanya membalasnya dengan “Nomer 3”. Udah sesingkat itu… aku happy banget saat itu.

Hari yang ku tunggu akhirnya datang juga…

Aku lupa kapan tepatnya aku menghadap bapak kaprodi (kepala program study) untuk mendapatkan finishing ACC judul skripsiku. Waktu itu aku menyerahkan 3 judul yang sudah mendapat ACC dari dosen sebelumnya. Setelah di cek oleh bapak kaprodi, judulku yang pertama tidak menarik, ok aku terima. Masuk ke pembahasan judul yang kedua, aku disuruh menjelaskan maksud dari judul tersebut dan harus memberikan bukti konkrit mengenai judul tersebut. Aku mulai menjelaskanya dengan sangat lancar, namun sayang… waktu itu aku datang hanya membawa referensi buku yang akan ku jadikan buku induk dalam pembahasan judul tersebut dan tidak membawa bukti konkrit mengenai judul tersebut. Oke nggak apa apa.

Lanjut ke judul ketiga, aku kelu tidak mampu menjelaskan. Karena judul itu ada bukan dari hasil pikiranku sendiri hehehe. Akupun hanya mengulum senyum karena penjelasanku tidak bisa diterima oleh bapak kaprodi. Ya wislah yaa…

“kamu kayaknya, lebih menguasai  judul yang kedua. Bisa kasi saya bukti yang konkrit mengenai judu keduamu ini mbak? Nanti kalau ada buktinya akan saya ACC.” Ucap bapak kaprodi kepadaku.

“bisa bapak, akan saya bawakan” jawabku.

Akhirnya aku berpamitan dan keluar dari ruangan bapak kaprodi dengan perasaan yang masih ngambang karena masih belum mendapatkan apa yang aku inginkan.

Singkat cerita…

Beberapa hari kemudian aku membawakan bukti konkrit tersebut ke ruangan bapak kaprodi dan sedikit menjelaskanya. Akhirnya judulku resmi di ACC. Alhamdulillah. Lanjut ketahap berikutnya adalah pengumuman dosen pembimbing (dospem). Aku waktu itu berdo’a semoga aku kebagian dospem laki-laki. Sekitar seminggu aku menunggu pengumuman dospem sembari aku mengerjakan matrik penelitianku yang blibet  itu  hehehe.

Beberapa hari kemudian pengumuman  dospem  sudah keluar, dan Alhamdulillah do’aku di ijabah oleh Allah, dospemku laki laki. Aku happy banget dan aku memanggilnya Ustadz. Dan cerita nangis-nangisnya dimulai dari sini…

Hari pertama bimbingan, aku menyerahkan surat kesediaan membimbing kepada ustadz. Setelah selesai aku keluar ruangan. Aku tidak membawa matrik penelitianku, karena belum selesai. Yaaa…matrik ku yang masih belibet itu masih dalam proses. Aku sengaja memang datang untuk pertama kalinya tidak membawa bahan apapun dan hanya menyerahkan surat kesediaanya ustadz untuk membimbingku selama skripsian setidaknya aku kenalan dulu dengan dosen pembimbingku yang ternyata cakep, berkarisma dan dingin abisssss…

Beberapa hari kemudian aku datang lagi untuk kali kedua dengan membawa matrik penelitianku yang ku konsep dengan susah payah. Namun matriku ditolak. Beliau beralasan bahwa matriku harus sudah di ACC oleh dosen pembimbing akademik (DPA) dulu baru ke dospem skripsi. Namun aku menyangkal bahwa, peraturan itu masih baru dan jurusan saya belum memberlakukan peraturan tersebut. Namun ustadz masih kekeh dan butuh konfirmasi langsung dari bapak kaprodi. Baiklahhh…

Hari itu aku langsung mengatur jadwal pertemuan dengan bapak kaprodi, singkatnya aku menjelaskan mengenai dospemku dan akhirnya bapak kaprodi memberikan coretan pesan di secarik kertas dan menyematkan tanda tanganya dibawah pesan tersebut.

Keesokan harinya, aku kembali mengatur jadwal bimbingan dan aku menyerahkan pesan dari bapak kaprodi ke dospemku. Setelah pesan tersebut dibaca, beliau mulai melihat matrik penelitianku yang ku konsep dengan susah payah. Dan drama skripsiku dmulai…

Ustadz, melihat dan mencoba memahami matrik yang ku ajukan sembari aku juga menjelaskanya. Namun aku merasa  aneh dari sikap ustadz ketika mulai mencerna matrik penelitianku. Beliau seperti kurang tertarik dengan apa yang aku konsep dalam matrik tersebut. Dan kami mendiskusikanya.

Bimbingan selanjutnya, masih berada ditahap itu. Entah sampai bimbingan keberapa saat itu, aku masih stuck di pembahasan matrik setiap kali bimbingan dengan ustadz. Aku capekk, namun nggak nyerah buat ikhtiyar dan berdo’a tiap hari. Dan pada akhirnya, di bimbingan selanjutnya kami masih mendiskusikan hal yang sama dan mencari jalan keluar. Dan aku memberanikan diri berkata “jika judul saya mau diganti juga tidak apa-apa ustadz”. Karena aku mengatakan hal tersebut akhirnya ustadz mengatakan alasan mengapa ustadz tidak terlalu tertarik dengan judul serta matrik yang ku berikan.

Jlebbb…batinku tercabik rasanya. Nahan buat nggak nangis di ruangan ustadz. Dan aku keluar dan berniat pulang ke pondok. Kebetulan, di tengah perjalanan pulang ke pondok ketemu temen dijalan dan akhirnya ku berhentikan motor dan aku ngejelasin apa yang kualami sambil nangis di pinggir jalan. “ udah nggak apa-apa, semangat buat konsep judul lagi yaa.” Kurang lebih begitulah temenku nenangin aku biar aku nggak nangis lagi. Trimakasih mbak Khusnul dan Feby.

Setelah moment itu, aku mulai mengonsep judul kembali dari awal. Aku hanya diberi waktu seminggu oleh ustadz untuk mengonsep judul kembali dan menyerahkanya pada ustadz. aku mulai berfikir keras dan sebagian aku juga mengajukan kembali judul-judulku yang pernah ditolak oleh dosen sbelumnya. Seminggu berlalu, aku kembali menemui ustadz dan memberikan judul-judul yang aku konsep selama seminggu itu. Beserta matriknya.

Namun ustadz, masih belum terlihat puas dengan apa yang aku bawa. Semua judulku ditolak. Okay nggak apa-apa…

Sebenarnya aku sudah capek, namun aku ingin segera selesai ditahap ini. Akhirnya karena melihat ustadz yang masih kurang puas dengan judul yang aku konsepin aku mengajukan satu judul lagi secara sepontan “saya sebenarnya masih punya satu fenomena lain ustadz, tapi saya belum bisa ngonsepnya” dan ustadz menyuruhku menjelaskan tentang fenomena tersebut. “itu saja” spontan ustadz menyetujui fenomena yang aku ajukan.

Kami mendiskusikan fenomena tersebut dan akhirnya terkonsep menjadi judul dan matrik, I’m so happy. Dan aku pulang dengan perasaan yang berbunga seperti orang jatuh cinta, eh yang ini lebih indah sepertinya. Hehehe…

Dari pengerjaan proposal di bab satu sampai bab tiga, aman dan masih mampu ku hadapi sendiri setiap kesulitan-kesulitan yang menghadang. Aku juga tak lupa berdo’a dan terus meminta dido’akan orang tua terutama ibu sembari aku berikhtiyar dalam pengerjaan proposal. Karena aku yakin bahwa aku tidak akan pernah mampu berada di proses ini jika aku hanya mengandalkan kemampuanku saja. Sombong aja rasanya, kalau tidak melibatkan Allah dan do’a orang tua.

Tepat 12 Maret 2019 aku selesai ujian proposal. Dengan list revisi yang tidak terlalu banyak. Dan akuu mulai istirahat, karena terlalu menggebu lahir batin selama ini. Janji istirahat 3 hari, namun sampai berhari hari dan akhirnya benar-benar di persilahkan untuk istirahat oleh dunia. Iyaa, waktu itu lockdown untuk pertama kalinya yang disebabkan oleh wabah virus corona/covid-19. Berminggu – minggu dan berbulan bulan revisiku masih bersantai di rak buku pondok. Sampai akhirnya kami dipulangkan, karena penyebaran wabah semakin meningkat dan banyak korban meninggal.

Pulang dan bersantai dirumah, karena semua aktifitas diliburkan. Isinya mager didalam rumah dari nonton flm, baca buku , olah raga dan main hp. Aktifitas yang membosankan ternyata jika hidup hanya dibuat gitu gitu saja. Namun waktu itu aku masih menikamatinya. Sampai akhirnya…

Satu…dua…tiga…teman-teman kelasku sidang skripsi dijarak yang berdekatan yaa.. pastinya secara online karena keadaan yang belum membaik. Sekitar bulan Juli tahun 2019 awal aku mulai kembali membuka revisianku dan menyicilnya kembali dan menyelesaikanya. Agustus-November ku optimalkan untuk benar-benar fokus berjuang agar aku cepat bisa sidang skripsi dan lulus.

Dengan keadaan yang belum membaik, aku mulai melakukan penelitian sebisa mungkin yaa.. meskipun banyak rintanganya, kucoba mencari celah bagaimana aku bisa selesai. Nggak cukup disitu, karena terlalu lama istirahat, otaku mulai nggak sincron dengan hasil kinerjaku selama ini. Ada yang salah dengan skripsiku. Aku coba meminta bantuan pemikiran dari beberapa orang, dari neng iim, mbak wardah dan mbak yuyun. Mereka memberikan solusi namun aku masih belum menemukan titik terang. Aku merasa janggal dengan tulisanku sendiri di skripsi, namun aku nggak tau dipoin mana letak kejanggalanya. Emang aku dan skripsiku susah dimengerti, hehehe…

Dan Finally berkat dari kesabaran orang-orang ku griduhi, apa yaa ku gangguin teruslah selama ku skripsian. Akhirnya kejanggalan itu bisa di siasati dengan baik. Hehehe. Ya meskipun dalam prosesnya aku juga banyak ngeluarin air mata juga.

Bab empat, akhirnya mendapat status ACC dengan segala dramanya, dan lanjut di bab terakhir, ku selesaikan dengan sangat singkat. Dan tepat sekitran Desember 2020 skripsiku di ACC dan layak diujikan. Ku telfon ibu, didepan ruangan ustadz, aku bilang “Alhamdulillah buk, skripsiku di ACC”. Ibu pun juga mengucapkan syukur Alhamdulillah di sebrang telepon.

Satu, bersyukur karena akan lulus dan yang kedua, aku lolos nggak bayar UKT di semester depan. Alhamdulillah…

Setelah mendapat ACC dari ustadz, aku segera mengurusi segala persyaratan yang dibutuhkan untuk sidang skripsiku nanti, segala administrasi ku lengkapi dengan sangat singkat, dan Alhamdulillah Allah mudahkan. Siang itu aku seharian mengurusi validasi persyaratan sidang skripsiku dan Alhamdulillah semua lancar. Akhirnya aku pulang dengan keadaan yang super lelah. Kumatikan data hp-ku karena aku juga butuh istirahat dimalam itu. Sekitaran subuh, ketika ku baru bangun tidur aku membuka data Hp-ku disana berderet pesan yang masuk sejak tadi malam dan setelah kulihat ada pesan dari kaprodiku beliau mengatakan “mbak, cek aplikasi sispensi yaa…” dan aku belum  sempat membuka aplikasi sispensi-ku, temanku si Nadziroh udah ngirimin screenshot jadwal sidang skripsiku. Jadi aku nggak jadi buka aplikasi deh, hehehe. Akhirnya ku tinggal sholat subuh dulu. Diakhir sholat aku kepikiran, tuh jadwal tadi ada ruanganya nggak yaa, kok aku nggak ngeliat. Akhirnya buru buru tuh habis sholat liat jadwal skripsiku yang dikirimin Nadziroh tadi, wweeeeeeeeiiitttttssss, OFFLINE sidangnyaaa. Auto kaget ngeliat ruangan tertulis S401 karena ku kira bakal online, karena keadaan yang masih belum membaik saat itu. Mulai overthinking dari sini, tapi masih sok cool ajaaa. Setelah mendapat validasi dan jadwal ujian, aku lanjut pembendelan skripsiku yang akan diujikan. Aku membendel lima buah skripsi untuk persiapan ujian di tempat foto copy langgananku di depan perpus. Kurang lebih 2 hari pembendelan selesai dan aku segera mengambilnya dan mendistribusikanya ke beberapa dosen pengujiku. Saat pendistribusian di penguji utama dan ketua penguji santai aja cuma disuruh naruh di meja kerjanya, karena beliau-beliau sibuk saat itu. Lahhh ketika ke asisten sidang ku nganterin skripsinya dirumah beliau. Waktu itu sekitaran habis maghrib aku dan Nadziroh kerumah beliau. Disana aku dan Nadziroh disidang kecil-kecilan wkwkwk. Karena kebetulan aku dan Nadziroh jadwal sidangnya dihari yang sama dan dengan penguji yang sama, Cuma beda dospem. Nah, jantung udah nggak karuan jedag jedug jedag jedug. Ditanya, kenapa kok gini, kenapa kok gituuu. Mulutku keluu mau menjawabnya. Akhirnya kujawab aja sebisaku alakadarnya. Karena aku belum ada persiapan apa-apa saat itu. Malam itu aku sampai rumah jam 22.00 WIB. Dan malam itu aku overthinking mau nangis dan gelisah ketika mau menghadapi ujian skripsi. Sekitar akhir Desember 2020 aku pergi keluar kota untuk menghadiri undangan dari teman dekatku. Aku mulai meninggalkan segala keruwetan pikiranku tentang skripsiku, healing sebentar lah wkwkwk. Namun ternyata healing-ku gagal, di acara itu banyak teman-temanku yang menanyakan prepareku untuk ujian. Hiksss sedddiihhh.

01 januari 2021 aku pulang ke Jember menggunakan kereta jam malam. Sekitar jam 21.00 WIB. Aku sampai di stasiun Jember. Lupa detailnya gimana, aku sampai rumah sekitar jam 23.00 WIB. Keesokan harinya ku tekatin diri buat fokus belajar skripsiku sendiri. Dan semakin ku pelajari, aku menemukan beberapa ke-minusan dari skripsiku sedang aku sudah tidak bisa memperbaikinya diwaktu-waktu dekat ini. Karena hal itu, overthinkingku semakin bertambah dan nangis nggak karuan dan sampai diajak ngobrol orang gk nyambung. Ditanya A aku jawabnya D wkwkwk. Separah ituuuu. Aku juga heran dengan diriku sendiri kenapa selemah itu dan se-cengeng itu hehehe.

H-1 ujian, aku menginap di kost temanku si Nadziroh. Sebelum berangkat aku  pamit ke ayah ibu  dan meminta didoakan  agar ujian lancar  dengan  nahan nangis. Setelah ku tenangin diri, aku mulai berangkat dengan membawa  keperluan  ujian. Dijalan menuju kost waktu yang kutempuh kurang lebih 30 menitan dan  diwaktu 30 menitan tersebut tangisku pecah. Iya,  sambil mengendarai motor sendirian, aku nangis sejadi-jadinya hingga aku sampai ke kostnya Nadziroh. Nadziroh pun juga bingung saat ngeliat aku nangis nggak karuan. Singkat cerita  drama nangisnya  selesai, mulai ke kelaperan dan akhirnya DO  makanan favorite yaitu Mie berlevel-level (tidak menyebutkan merek karena tidak mengandung iklan wkwkwk).

Habis makan mulai tuh berani tanyak tanyak skripsinya si Nadziroh dan mulai berdiskusi tentang skripsi, karena kulihat temenku ini lempeng banget, adem adem bae, sedang aku paniknya Subhanallah... Nggak terasa waktu cepet banget dan kami istirahat dimalam itu setelah belajar. Pagi sekitar adzan subuh kami bangun dan berdoa semoga ujianya lancar sambil membuka-buka skripsi kita masing-masing. Daaannn pagi itu, kami bersiap siap berangkat ke kampus yang jaraknya tidak jauh dari kost. Pagi itu aku lempeng banget, batinku damai dan gelisahku ilang nggak tau pergi kemana. Sekali lagi aku yakin ini mungkin berkat dari doa ibu dan Ayah. Pagi ituu rasa panikku udah nyaris tidak ada. Aku masuk keruangan ujian sekitar jam 10.30 WIB. Dan benarrr masyaAllah…didalam aku santai, jantungku juga tenang dan berdetak normal. Kekuatan do’a orangtua memang begitu dahsyatnya. Didalam ruangan aku santai, semua pertanyaan penguji nyaris bisa kujawab dengan segala penjelasan serta bukti yang ku sajikan. Alhamdulillah…dan tentang ketakutanku selama penantian hari H ujian. Tidak ada yang menjadi kenyataan hehehe.

“Akhirnya ketua pengujiku bilang “mbak, Umi Yuridatul Laili kami nyatakan anda tidak…………………………”(jeda panjang itu yang sempat membuatku berpikir “masak sih aku harus ngulang”) dan akhirnya ketua pengujiku melanjutkan ucapanya “mengulang”. Alhamdulillah, bersyukur sekali hari itu aku akhirnya berhasil menyelesaikan study-ku selama ini dan akhirnya LULUS.

04 Januari 2022 adalah tanggal yang akan selalu menjadi tanggal sejarah dalam hidupku. Untuk kalian yang membantuku selama aku skripsian. Terimakasih dengan begitu sabarnya kalian mendampingiku hingga aku berhasil menyelesaikan skripsiku ini. Thankyou so much dear…and love you more.

Perjalanan menuju wisuda hampir satu tahun setelah lulus karena bumi kita masih belum membaik saat itu, menunggu dan menunggu. Pada akhirnya aku di Yudisi sekitar tanggal 28 juni 2021 di salah satu gedung hotel di Jember dengan menerapkan protocol kesehatan secara ketat dan di wisuda tanggal 30 juni 2021 yang rencananya akan dilaksanakan secara offline di gedung kuliah terpadu kampusku. Namun,………

Iyaa, sekali lagi kami diingatkan oleh Allah, jika kami hanyalah manusia biasa yang hanya mampu berencana dan hanya Allah yang berhak mengendalikan segalanya. Pada taun 2020 kampus kami sudah melaksanakan wisuda secara tatap muka dengan cara Drive True karena wabah covid-19 waktu masih lumayan tinggi. Waktu itu banyak sekali mahasiswa yang kecewa dan mengundurkan diri dari pendaftaran wisuda. Sedangkan ditahun 2021kampus kami juga berencana melaksanakan wisuda secara tatap muka dengan membuat agenda 2 periode. Periode pertama tanggal 29 juni 2021 dan periode kedua ditanggal 30 juni 2021. Dan aku kebagian dip erode kedua. Di periode pertama semua berjalan lancar dengan menggunkan protocol kesehatan dan diawasi langsung oleh satgas covid-19. Entah ada kejadian apa, 29 juni 2021 sore hari kampusku mengeluarkan surat edaran berupa pemberitahuan bahwa wisuda period ke 2 yang akan dilaksanakan tanggal 30 juni 2021 akan dilaksanakan secara online. Degggggg….kecewa. iyyaaa lah kecewaaa… tapi mau gimana lagi. yaudah terima ajaaa…

Semua prepare dibatalin dan aku mengonsep acaraku kembali dihari itu dengan sangat singkat. Dan sekali lagi aku mengganggu ketenangan saudara saudaraku mbak wardah, A’yun dan umi untuk membantuku mempersiapakan segala printilan printilan yang ku butuhin pas hari wisuda. Dari belajar zoom dan cari tukang make up yang akhirnya dibantu mbak wardah yang nge-make up aku saat itu. Thankyou so much, semoga Allah membalasnya dengan berlimpah kebaikan. Amin

Dan Alahmdulillah, 30 juni 2021 acara lancar. Dengan berbekal mandi dan pakai bedak ala kadarnya seperti biasa, dan memakai baju toga aku resmi di wisuda secara online. Setelah acara selesai ku siap siap di make up dan memboyong keluarga ke studio foto dekat rumah. Ini konsep dadakan yang luarbiasaaa. Thankyou, sekali lagi Thankyou so much.

Dan dihari itu, trimakasih juga buat kalian yang sudah hadir kerumah untuk memeriahkan hari itu serta yang memberikan ucapan kepadaku via apapun. Trimakasih.

Sekali lagi, ingin kusampaikan kepada kalian yang membaca tulisanku ini. Jangan pernah lupakan doa disetiap langkah kalian mencapai apapun. Karena doa itu mampu mengetuk pintu langit dan membuat kemungkinan yang kecil menjadi kemungkinan yang besar akan terjadi pada diri kita. Dan jangan lupa untuk selalu didoakan orang tua terlebih ibu, karena beliaulah kunci dari dari keridhoan Allah swt.

Sekian cerita saya, semoga kalian yang membacanya bisa mengambil baik-baiknya dari perjalanan saya dan untuk buruknya bisa di skip aja. Terimakasih dan see you…

 

Wassalamualaikum wr wb

Jember, 08 juli 2022


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Happy Mother Days

keseharian kami sebagai santri